Bismillahirrahmanirrahiim...
Tulisan ini dibuat hanya sekedar menumpahkan apa yang saya rasakan selama 3 bulan mempersiapkan diri untuk event ini. Karena memang asli saya suka corat coret. Dan selama setahun ini saya vakum alias mengesampingkan kegiatan coret coret saya karena ada kesibukan lain. Jadi kurang lebih bisa dikatakan balas dendam karena dipondok tidak sempat menuliskan kisah yang sangat penuh dengan kenangan ini.
.
Kamis, 2 Desember 2021
Aula Agus Bahrul Ulum Lt. 3
Lebih tepatnya pagi, kalau tidak salah. Aku dengan dua temanku, Zahro', dan nduk Na, dipanggil untuk menghadap walikelas, pak Riza. Pak Riza, tanpa pembukaan atau basa - basi lainnya, bersabda " Kalian saya titahkan untuk mengikuti seleksi RMI besok Jum'at!! Di gedung lantai tiga Ma'had Aly. Maqro'nya bab sholat tok". Aku pribadi kaget mendengar itu. Tiba - tiba teringat kenangan 2 tahun yang lalu. Waktu itu aku juga di perintah untuk mengikuti seleksi RMI tapi tidak lolos. Karena, menurut cerita yang beredar dikalangan santri, katanya, peserta RMI itu sudah dipilih walaupun ada seleksi peserta. Jadi seleksi itu hanya formalitas belaka. Pada kesempatan kedua ini, aku juga sempat meremehkan. " Palingan yang kepilih ya orang - orang itu ajha " . Kataku dalam hati, aku pesimis. Zahro' seperti bisa membca raut wajahku yang tidak enak. Lalu dia bilang. "Nggak papa fis, dicoba dulu". Aku mengangguk. "Pak, ini beneran besok? Belum belajar pak". Kami mengeluh. Pak Riza bilang "Halah, bab sholat kan kalian sudah selesai. Tinggal ngelalar, gampang 'kan bab sholat?". Kami bertiga menelan ludah. "Iya sudah pak. Gampang wes to". Aku bilang gitu sambil nepuk - nepuk pundaknya nduk Na. Nduk Na hanya bisa yowes yowes. Ada yang mengganjal, aku tanya ke Pak Riza. " Pak, Sendi ndak njenengan ikutkan?".
"Sudah saya tawari, tapi anaknya ndak mau.
Katanya besok ada tes".
Aku hanya ber - oo saja.
" Pak, takut ndak lolos".
" Pokok seng penting samian budhal. Lek lolos yo alhamdulillah. Lek gak, yo wes rapopo, gae pengalaman ae tau milu seleksi".
.
Setelah itu kami bertiga belajar bareng buat persiapan besok. Apalagi waktu itu malem Jum'at. Hari libur. Jadi lumayan cukup untuk kami ngelalar.
.
Jum'at, 3 Desember 2021
Pagi 08.00
Kami berangkat ke gedung Ma'had Aly Lt. 3
(Singkat cerita, agar ceritanya tidak lama - lama disini).
Karena saking banyaknya peserta seleksi, akhirnya, kami harus rela menunggu nama kami dipanggil. Lelah menunggu, akhirnya nama nduk Na yang pertama dipanggil. Itupun majunya ba'da jum'atan. Sampai adzan ashar berkumandang, namaku dan Zahro' belum di panggil. Ketika pulang ke asrama untuk sholat, aku bilang ke Zahro' " ro' wes lah aku moh balek neh rono, kesel. Amu ae yo dewe rono. Masio lo yo gak kiro kepileh". Aku pesimis karena capek. Ditambah ada berita itu pula.
"Heee ojo to. Aku yo kesel. Wes to pokok budhal. Jare Pak Riza kan gak popo gak lolos. Penting budhal. Diniati manut Pak Riza wes to". Zahro' menyemangati. "Iyo wes. Manut Pak Riza". Kataku mantap.
.
Ba'da ashar
Akhirnya dengan tenaga yang tersisa, berangkatlah aku dengan Zahro' ke tempat seleksi. Disana masih sepi, hanya beberapa orang anak putra, sedangkan putrinya hanya aku, Zahro', dan beberapa anak asrama kitab.
Masuk keruangan, Zahro' langsung dipanggil maju. Terus giliranku. (Udah ah, kyanya makin bertele - tele deh. Pada intinya tesku nggak lancar).
.
Satu minggu kemudian...
Kamis, 9 Desember 2021.
Waktu itu jam takror. Teman - teman sedang khusyuk mencatat materi. Tiba - tiba Pak Irfani masuk ke kelas sambil bawa 2 undangan.
Ketika jam pelajaran usai, aku dan nduk Na dipanggil Pak Riza. Beliau menyodorkan duah buah undangan. " Nyooh dibuka!". Janungku berdebar. "Apa ya ini?" batinku. Setelah dibuka tawaku pecah. Nduk Na juga. "Hahahaha... Ini beneran?? Demi apaaaaa??. Kok bisa lolos sih?"
"Ya berarti udah rezekinya". Kata pak riza.
.
Ternyata temen - temen sudah pada peka, ketika pak irfani masuk ke kelas bawa undangan. Karena sebagian temen - temen tau kalau pak Irfani itu panitia RMI. Sedangkan aku tidak tau fakta itu
.
Malamnya...
Sendi mengahampiriku. Ia mengucapkan selamat. Aku sungkan, karena aku tau ini adalah ajang lomba bergengsi yang juga ingin dia ikuti, tapi malah aku yang dapat. Aku berusaha agar tidak terjadi percakapan panjang antara aku dan dia. Aku meminimalisir obrolan. Aku diam, tapi tidak beranjak. Karena aku tau dia akan dan sangat ingin mengungkapkan sesuatu tapi berat. Maka dari itu aku diam, menunggu dia siap untuk cerita. Akhirnya, aku ditariknya keluar dari kamar. Ke tempat sepi. " Sepertinya ini privasi" batinku. Abis itu dianya nangis, aku rangkullah.
"Lha kok nangis. Aku minta maaf ya".
Dia hanya geleng - geleng kepala sambil menyeka dan berusaha menahan airmatanya. Lalu mencoba tersenyum.
"Mau cerita sekarang?"
Dia menggeleng. "Nggak, nanti ajha ba'da isya'."
"Oke. Ba'da isya' lho yaaa.".
( mohon maaf ya kepada pembaca. Bagian ini tidak bisa saya ceritakan karena privacy. Pada intinya sendi is very sad. Udah gitu ajha.)
And, lanjut aku bilang ke dia. "Ya udah lah sen. Semua ada hikmahnya. Kalo kamu yakin itu, pasti nanti bakalan ada, tapi ngga tau kapan. Pokoknya yakin dulu. Yang ikhlas. Lagian kamunya juga sih diperintah guru ikut seleksi malah nolak". Pas aku bilang gitu yah dianya mewek lagi.๐๐. (Btw, ini bahasanya ngawur ngga apa apa kan friends?).
Terus aku lanjutin ceramahnya "Berdo'a ajha semoga di kasih ganti yang lebih baik dari ini. Itu kalo kamu ikhlas."
Iya sudah gitu doang. Abis itu ganti scene.
.
( Bersambung ke part 2 ya readers. Kayanya bacot mulu isinya, maaf yaaaaa).
Dari sini aku bisa ambil pelajaran bahwa perintah guru itu harus dinomersatukan dari apapun. Bahkan kalau itu kepentingan pribadi kita sekalipu. ( Tapi ya bukan berarti siguru dengan seenaknya mengatur SEGALA ASPEK KEHIDUPAN KITA ye 'kan. I mean kaya makan, tidur harus jam segini, dan berabagai rentetan peraturan yang lain). Yah, emang susah. Pake banget. Tapi, ternyata disitulah letak barokahnya. Susah, apalagi kalau perintahnya melarang untuk boyong. Aduh, kan susah. Ngelakuinnya maksutnya.
Btw. Surat nya masih ada kok friends. Aku tempel dibuku harianku. Sebagai bukti, bahwa aku juga pernah bermimpi untuk menjadi peserta RMI.