.
Jum'at 10, Desember 2021
Aula barat ruang B.04
Pengukuhan peserta RMI 2022
13.00
Siang itu aku dijemput ndukNa diasrama. Dia harus menerima kenyataan bahwa aku bangun tidur. Akhirnya, aku berangkat dengan tergesa - gesa. Sampai sana, ternyata lumayan ramai. Sebagian sudah datang. Ruangannya hampir penuh. Aku mengambil posisi dibarisan belakang. Acara belum juga mulai. Samakin lama semakin banyak yang datang. "Wah, ini banyak banget ya pesertanya. Tapi, ada mbak - mbak senior juga. Oh, mungkin pembimbing." batinku. Acara pun dimulai. Pembukaan diawali oleh sesepuh MADINA, Ustadz Abdul Hamid. Beliau berpesan "Blokagung kalau menang itu sudah biasa, tidak mengherankan. Tapi kalau kalah, itu memalukan". Belum apa - apa aku sudah down duluan. Kulihat sekelilingku, orangnya jos - jos. Aku hanya membatin " semoga nular ya Allah. Amiin". Tapi, lagi - lagi hanya perasaan minder yang kurasa.
.
Langsung deh ke acara inti. Disini, yang menjadi pembicara adalah ketua panitia kontingen Darussalam, Ustadz Syamil. Dan ternyata aku dapet bagian kitab Fath Alqorib. Sedangkan nduk Na dapat bagian kitab ula, Mukhtashor Jiddan. Kupikir pembagian kitab sesuai dengan tingkatan kelas diniyyah. Ternyata tidak. Setelah itu beliau, ust Syamil memberikan semangat kepada seluruh peserta. Juga peringatan bahwa lomba ini harus diperjuangkan dengan sekuat tenaga. Yang paling berat, ketika beliau bilang "Buang nama pribadi kalian. Sekarang, nama besar pondok pesantren Darussalam ada di pundak kalian". Hanya itu yang kuingat saat ini. Karena dari awal beliau bicara, pada intinya harus menang. Jadi aku tidak mengingat banyak. Mungkin harus istiqomah bimbingan juga. Selepas acara, kami para peserta dipersilakan berkenalan dengan pembimbing masing - masing. Pembimbingku ustadzah Nurul Hidayah. Di pesantren beliau menjabat sebagai ketua lembaga kutubussalaf. Pulang dari tempat acara, rasanya berat sekali pundak ini. " Ya Allah aku tidak mungkin bisa melalui semua ini tanpaMu. Bantu aku Ya Allah."
.
Sejak hari itu aku sudah mikir macam - macam. Kemungkinan - kemunkinan buruk yang akan terjadi. "Ah, kau overthinking nafis. Ngga sehat itu buat mental. Harus optimis dong. Pokok istiqomah bimbingan insyaallah bisa." batinku. Dari sini perlu kalian ketahui ya teman. Bahwa, yang namanya semangat itu, datangnya dari kita sendiri. Walaupun kalian punya sosok motivator khusus. Itu nggak bisa jadi latarbelakang timbulnya semangat kalian. Aku yakin setiap orang tau itu. Bahkan, mungkin sudah bosan mendengarnya.
.
Akhirnya, hari demi hari kulalui. Tak pernah ada malam tanpa bimbingan. Parahnya aku selalu telat. Karena jam habisnya pelajaran Pak Riza memang agak lama.Tapi itu tak jadi masalah. Hanya saja sedikit sungkan dengan ustadzah pembimbing, juga officialnya. Tapi yasudahlah. Sudah berlalu juga.
.
Tapi, makin hari makin pesimis ajha akunya. Soalnya pemahaman belum terlalu dalem banget. Nggak kaya mbak acha. Walaupun diawal sempat padam rasa overthinkingnya, di pertengahan perjalanan, dia datang lagi. Menyebalkan memang. Tapi, rasanya susah untuk di tampik. Ditambah lagi, mereka, kawan - kawanku dari delegasi kitab yang lain, rata - rata sudah jadi ustadzah sorogan, ustdzh ihfadz, sedangkan aku? Apalah aku diantara mereka. Jadi minder. Ah, pokok perasaan ku selalu tidak karuan setelah bimbingan. Bisanya, hanya meratapi nasib sambil kirim fatihah ke pengarang kitab. Habis itu belajar lagi dengan perasaan yang campur aduk. Hah. Rasanya semangatku selama 3 bulan itu naik turun.
.
Hingga tibalah simulasi pertama
30 Desember 2021
Hanya takut yang aku rasakan. Bu Nuhi juga sudah memberi semangat, kalau baca yang tenang, ndak usah terburu - buru, yang teliti. Lagipula sebelum itu, aku juga sudah latihan baca tenang. Aku yakin akan bisa melalui simulasi pertama ini dengan baik. Tapi kenyataannya tidak seperti yang dibayangkan.
.
Bacanya cepet, fi'il jadi isim, isim jadi fi'il, mbulet sangking nervous nya. Dalam hati aku bilang " Ini hanya pengujian mental nafiiis. Tenang ajha. Kamu pasti kuat". Dengan sabar, dewan juri membimbingku untuk membenarkan kesalahan bacaan tadi. Dilanjut ke tes pemahaman fiqih. Ini juga amburadul. Di tambah aku kenal jurinya, beliau guruku di Muadalah. Ngajar alfiyyah. Malu banyak salahnya.
.
Sejak malam itu, rutinitas kembali seperti biasa. Bimbingan, bimbingan, bimbingan. Tak ketinggalan pula semangat yang kadang naik kadang turun. Down rasanya kalau mengingat simulasi pertama waktu itu. Aku heran, kenapa overthinking selalu menyerang disaat orang sedang butuh semangat. Aaaargh. Aku kesal. Kadang terbesit "Alah fis, yang penting disuruh belajar ya belajar". Tapi, aku punya tekad, "Pokoknya di simulasi kedua, aku harus berhasil." Dengan selalu ingat akan tekadku itu, aku jadi selalu semangat berangkat bimbingan.
.
Tak hanya itu, seiring waktu berjalan, aku sadar bahwa relasi pertemanan itu harus dibangun seluas - luasnya. Hal itu melatih diriku untuk berinteraksi dengan berbagai macam orang. Tidak hanya terpaku pada satu circle pertemanan. Dan itu menyenangkan.
.
Siang dan malam. Tidak ada hari tanpa belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar