Sabtu, 30 April 2022
you're my hero
Saya punya satu sosok yang pantas menyandang label pahlawan. Entah mengapa, rasanya pertemuan dengannya itu bisa akh sebut dengan hidayah daru Tuhan. Sejak bertemu dengannya, hidup saya berubah drastis, dari yang asalnya pesimis menjadi optimis. Dari yang asalnya khayalan berubah menjadi kenyataan.
Rabu, 27 April 2022
Impian yang Tertukar ( 2 )
Hai friends. Bertemu lagi dengan saya dipart 2 dari cerita ini. Sebenarnya ini masih belum bisa diprediksi akan menghabiskan berapa part lagi untuk menuntaskan story ini. But, yang penting saya nulis dulu kan yaaaa. Biar ini blog rada berfungsi untuk kelangsungan hidup tulisan saya. Okelah agar tidak memperpanjang waktu, saya bisa langsung cerita kan?
.
Jum'at 10, Desember 2021
Aula barat ruang B.04
Pengukuhan peserta RMI 2022
13.00
Siang itu aku dijemput ndukNa diasrama. Dia harus menerima kenyataan bahwa aku bangun tidur. Akhirnya, aku berangkat dengan tergesa - gesa. Sampai sana, ternyata lumayan ramai. Sebagian sudah datang. Ruangannya hampir penuh. Aku mengambil posisi dibarisan belakang. Acara belum juga mulai. Samakin lama semakin banyak yang datang. "Wah, ini banyak banget ya pesertanya. Tapi, ada mbak - mbak senior juga. Oh, mungkin pembimbing." batinku. Acara pun dimulai. Pembukaan diawali oleh sesepuh MADINA, Ustadz Abdul Hamid. Beliau berpesan "Blokagung kalau menang itu sudah biasa, tidak mengherankan. Tapi kalau kalah, itu memalukan". Belum apa - apa aku sudah down duluan. Kulihat sekelilingku, orangnya jos - jos. Aku hanya membatin " semoga nular ya Allah. Amiin". Tapi, lagi - lagi hanya perasaan minder yang kurasa.
.
Langsung deh ke acara inti. Disini, yang menjadi pembicara adalah ketua panitia kontingen Darussalam, Ustadz Syamil. Dan ternyata aku dapet bagian kitab Fath Alqorib. Sedangkan nduk Na dapat bagian kitab ula, Mukhtashor Jiddan. Kupikir pembagian kitab sesuai dengan tingkatan kelas diniyyah. Ternyata tidak. Setelah itu beliau, ust Syamil memberikan semangat kepada seluruh peserta. Juga peringatan bahwa lomba ini harus diperjuangkan dengan sekuat tenaga. Yang paling berat, ketika beliau bilang "Buang nama pribadi kalian. Sekarang, nama besar pondok pesantren Darussalam ada di pundak kalian". Hanya itu yang kuingat saat ini. Karena dari awal beliau bicara, pada intinya harus menang. Jadi aku tidak mengingat banyak. Mungkin harus istiqomah bimbingan juga. Selepas acara, kami para peserta dipersilakan berkenalan dengan pembimbing masing - masing. Pembimbingku ustadzah Nurul Hidayah. Di pesantren beliau menjabat sebagai ketua lembaga kutubussalaf. Pulang dari tempat acara, rasanya berat sekali pundak ini. " Ya Allah aku tidak mungkin bisa melalui semua ini tanpaMu. Bantu aku Ya Allah."
.
Sejak hari itu aku sudah mikir macam - macam. Kemungkinan - kemunkinan buruk yang akan terjadi. "Ah, kau overthinking nafis. Ngga sehat itu buat mental. Harus optimis dong. Pokok istiqomah bimbingan insyaallah bisa." batinku. Dari sini perlu kalian ketahui ya teman. Bahwa, yang namanya semangat itu, datangnya dari kita sendiri. Walaupun kalian punya sosok motivator khusus. Itu nggak bisa jadi latarbelakang timbulnya semangat kalian. Aku yakin setiap orang tau itu. Bahkan, mungkin sudah bosan mendengarnya.
.
Akhirnya, hari demi hari kulalui. Tak pernah ada malam tanpa bimbingan. Parahnya aku selalu telat. Karena jam habisnya pelajaran Pak Riza memang agak lama.Tapi itu tak jadi masalah. Hanya saja sedikit sungkan dengan ustadzah pembimbing, juga officialnya. Tapi yasudahlah. Sudah berlalu juga.
.
Tapi, makin hari makin pesimis ajha akunya. Soalnya pemahaman belum terlalu dalem banget. Nggak kaya mbak acha. Walaupun diawal sempat padam rasa overthinkingnya, di pertengahan perjalanan, dia datang lagi. Menyebalkan memang. Tapi, rasanya susah untuk di tampik. Ditambah lagi, mereka, kawan - kawanku dari delegasi kitab yang lain, rata - rata sudah jadi ustadzah sorogan, ustdzh ihfadz, sedangkan aku? Apalah aku diantara mereka. Jadi minder. Ah, pokok perasaan ku selalu tidak karuan setelah bimbingan. Bisanya, hanya meratapi nasib sambil kirim fatihah ke pengarang kitab. Habis itu belajar lagi dengan perasaan yang campur aduk. Hah. Rasanya semangatku selama 3 bulan itu naik turun.
.
Hingga tibalah simulasi pertama
30 Desember 2021
Hanya takut yang aku rasakan. Bu Nuhi juga sudah memberi semangat, kalau baca yang tenang, ndak usah terburu - buru, yang teliti. Lagipula sebelum itu, aku juga sudah latihan baca tenang. Aku yakin akan bisa melalui simulasi pertama ini dengan baik. Tapi kenyataannya tidak seperti yang dibayangkan.
.
Bacanya cepet, fi'il jadi isim, isim jadi fi'il, mbulet sangking nervous nya. Dalam hati aku bilang " Ini hanya pengujian mental nafiiis. Tenang ajha. Kamu pasti kuat". Dengan sabar, dewan juri membimbingku untuk membenarkan kesalahan bacaan tadi. Dilanjut ke tes pemahaman fiqih. Ini juga amburadul. Di tambah aku kenal jurinya, beliau guruku di Muadalah. Ngajar alfiyyah. Malu banyak salahnya.
.
Sejak malam itu, rutinitas kembali seperti biasa. Bimbingan, bimbingan, bimbingan. Tak ketinggalan pula semangat yang kadang naik kadang turun. Down rasanya kalau mengingat simulasi pertama waktu itu. Aku heran, kenapa overthinking selalu menyerang disaat orang sedang butuh semangat. Aaaargh. Aku kesal. Kadang terbesit "Alah fis, yang penting disuruh belajar ya belajar". Tapi, aku punya tekad, "Pokoknya di simulasi kedua, aku harus berhasil." Dengan selalu ingat akan tekadku itu, aku jadi selalu semangat berangkat bimbingan.
.
Tak hanya itu, seiring waktu berjalan, aku sadar bahwa relasi pertemanan itu harus dibangun seluas - luasnya. Hal itu melatih diriku untuk berinteraksi dengan berbagai macam orang. Tidak hanya terpaku pada satu circle pertemanan. Dan itu menyenangkan.
.
Siang dan malam. Tidak ada hari tanpa belajar.
Sabtu, 23 April 2022
Impian yang Tertukar (1)
Bismillahirrahmanirrahiim...
Tulisan ini dibuat hanya sekedar menumpahkan apa yang saya rasakan selama 3 bulan mempersiapkan diri untuk event ini. Karena memang asli saya suka corat coret. Dan selama setahun ini saya vakum alias mengesampingkan kegiatan coret coret saya karena ada kesibukan lain. Jadi kurang lebih bisa dikatakan balas dendam karena dipondok tidak sempat menuliskan kisah yang sangat penuh dengan kenangan ini.
.
Kamis, 2 Desember 2021
Aula Agus Bahrul Ulum Lt. 3
Lebih tepatnya pagi, kalau tidak salah. Aku dengan dua temanku, Zahro', dan nduk Na, dipanggil untuk menghadap walikelas, pak Riza. Pak Riza, tanpa pembukaan atau basa - basi lainnya, bersabda " Kalian saya titahkan untuk mengikuti seleksi RMI besok Jum'at!! Di gedung lantai tiga Ma'had Aly. Maqro'nya bab sholat tok". Aku pribadi kaget mendengar itu. Tiba - tiba teringat kenangan 2 tahun yang lalu. Waktu itu aku juga di perintah untuk mengikuti seleksi RMI tapi tidak lolos. Karena, menurut cerita yang beredar dikalangan santri, katanya, peserta RMI itu sudah dipilih walaupun ada seleksi peserta. Jadi seleksi itu hanya formalitas belaka. Pada kesempatan kedua ini, aku juga sempat meremehkan. " Palingan yang kepilih ya orang - orang itu ajha " . Kataku dalam hati, aku pesimis. Zahro' seperti bisa membca raut wajahku yang tidak enak. Lalu dia bilang. "Nggak papa fis, dicoba dulu". Aku mengangguk. "Pak, ini beneran besok? Belum belajar pak". Kami mengeluh. Pak Riza bilang "Halah, bab sholat kan kalian sudah selesai. Tinggal ngelalar, gampang 'kan bab sholat?". Kami bertiga menelan ludah. "Iya sudah pak. Gampang wes to". Aku bilang gitu sambil nepuk - nepuk pundaknya nduk Na. Nduk Na hanya bisa yowes yowes. Ada yang mengganjal, aku tanya ke Pak Riza. " Pak, Sendi ndak njenengan ikutkan?".
"Sudah saya tawari, tapi anaknya ndak mau.
Katanya besok ada tes".
Aku hanya ber - oo saja.
" Pak, takut ndak lolos".
" Pokok seng penting samian budhal. Lek lolos yo alhamdulillah. Lek gak, yo wes rapopo, gae pengalaman ae tau milu seleksi".
.
Setelah itu kami bertiga belajar bareng buat persiapan besok. Apalagi waktu itu malem Jum'at. Hari libur. Jadi lumayan cukup untuk kami ngelalar.
.
Jum'at, 3 Desember 2021
Pagi 08.00
Kami berangkat ke gedung Ma'had Aly Lt. 3
(Singkat cerita, agar ceritanya tidak lama - lama disini).
Karena saking banyaknya peserta seleksi, akhirnya, kami harus rela menunggu nama kami dipanggil. Lelah menunggu, akhirnya nama nduk Na yang pertama dipanggil. Itupun majunya ba'da jum'atan. Sampai adzan ashar berkumandang, namaku dan Zahro' belum di panggil. Ketika pulang ke asrama untuk sholat, aku bilang ke Zahro' " ro' wes lah aku moh balek neh rono, kesel. Amu ae yo dewe rono. Masio lo yo gak kiro kepileh". Aku pesimis karena capek. Ditambah ada berita itu pula.
"Heee ojo to. Aku yo kesel. Wes to pokok budhal. Jare Pak Riza kan gak popo gak lolos. Penting budhal. Diniati manut Pak Riza wes to". Zahro' menyemangati. "Iyo wes. Manut Pak Riza". Kataku mantap.
.
Ba'da ashar
Akhirnya dengan tenaga yang tersisa, berangkatlah aku dengan Zahro' ke tempat seleksi. Disana masih sepi, hanya beberapa orang anak putra, sedangkan putrinya hanya aku, Zahro', dan beberapa anak asrama kitab.
Masuk keruangan, Zahro' langsung dipanggil maju. Terus giliranku. (Udah ah, kyanya makin bertele - tele deh. Pada intinya tesku nggak lancar).
.
Satu minggu kemudian...
Kamis, 9 Desember 2021.
Waktu itu jam takror. Teman - teman sedang khusyuk mencatat materi. Tiba - tiba Pak Irfani masuk ke kelas sambil bawa 2 undangan.
Ketika jam pelajaran usai, aku dan nduk Na dipanggil Pak Riza. Beliau menyodorkan duah buah undangan. " Nyooh dibuka!". Janungku berdebar. "Apa ya ini?" batinku. Setelah dibuka tawaku pecah. Nduk Na juga. "Hahahaha... Ini beneran?? Demi apaaaaa??. Kok bisa lolos sih?"
"Ya berarti udah rezekinya". Kata pak riza.
.
Ternyata temen - temen sudah pada peka, ketika pak irfani masuk ke kelas bawa undangan. Karena sebagian temen - temen tau kalau pak Irfani itu panitia RMI. Sedangkan aku tidak tau fakta itu
.
Malamnya...
Sendi mengahampiriku. Ia mengucapkan selamat. Aku sungkan, karena aku tau ini adalah ajang lomba bergengsi yang juga ingin dia ikuti, tapi malah aku yang dapat. Aku berusaha agar tidak terjadi percakapan panjang antara aku dan dia. Aku meminimalisir obrolan. Aku diam, tapi tidak beranjak. Karena aku tau dia akan dan sangat ingin mengungkapkan sesuatu tapi berat. Maka dari itu aku diam, menunggu dia siap untuk cerita. Akhirnya, aku ditariknya keluar dari kamar. Ke tempat sepi. " Sepertinya ini privasi" batinku. Abis itu dianya nangis, aku rangkullah.
"Lha kok nangis. Aku minta maaf ya".
Dia hanya geleng - geleng kepala sambil menyeka dan berusaha menahan airmatanya. Lalu mencoba tersenyum.
"Mau cerita sekarang?"
Dia menggeleng. "Nggak, nanti ajha ba'da isya'."
"Oke. Ba'da isya' lho yaaa.".
( mohon maaf ya kepada pembaca. Bagian ini tidak bisa saya ceritakan karena privacy. Pada intinya sendi is very sad. Udah gitu ajha.)
And, lanjut aku bilang ke dia. "Ya udah lah sen. Semua ada hikmahnya. Kalo kamu yakin itu, pasti nanti bakalan ada, tapi ngga tau kapan. Pokoknya yakin dulu. Yang ikhlas. Lagian kamunya juga sih diperintah guru ikut seleksi malah nolak". Pas aku bilang gitu yah dianya mewek lagi.😂😂. (Btw, ini bahasanya ngawur ngga apa apa kan friends?).
Terus aku lanjutin ceramahnya "Berdo'a ajha semoga di kasih ganti yang lebih baik dari ini. Itu kalo kamu ikhlas."
Iya sudah gitu doang. Abis itu ganti scene.
.
( Bersambung ke part 2 ya readers. Kayanya bacot mulu isinya, maaf yaaaaa).
Dari sini aku bisa ambil pelajaran bahwa perintah guru itu harus dinomersatukan dari apapun. Bahkan kalau itu kepentingan pribadi kita sekalipu. ( Tapi ya bukan berarti siguru dengan seenaknya mengatur SEGALA ASPEK KEHIDUPAN KITA ye 'kan. I mean kaya makan, tidur harus jam segini, dan berabagai rentetan peraturan yang lain). Yah, emang susah. Pake banget. Tapi, ternyata disitulah letak barokahnya. Susah, apalagi kalau perintahnya melarang untuk boyong. Aduh, kan susah. Ngelakuinnya maksutnya.
Btw. Surat nya masih ada kok friends. Aku tempel dibuku harianku. Sebagai bukti, bahwa aku juga pernah bermimpi untuk menjadi peserta RMI.
Langganan:
Komentar (Atom)
Sek to
Selasa, 17 Mei 2022 Siang itu, sekitar pukul 13.56 kawanku memberi kabar di grup kelas. Tentang kawan kami yang terkena musibah kecelakaan...